Wisudho Harsanto

Wisudho Harsanto

These are the best posts from Wisudho Harsanto.

4 viral posts with 6,992 likes, 1,103 comments, and 116 shares.
0 image posts, 0 carousel posts, 0 video posts, 4 text posts.

👉 Go deeper on Wisudho Harsanto's LinkedIn with the ContentIn Chrome extension 👈

Best Posts by Wisudho Harsanto on LinkedIn

SI BOSS KEPOIN AKU APPLY, NGERI GAK SIH

“Om, ngeri gak? Pas aku nulis - saya berminat- terhadap loker di LinkedIn, terus dibaca bos dan di-WA: kenapa masih cari peluang baru? Apa yang kurang dari kantor ini?“ Dia nanya persis seperti Adrian I. Soetomo. Kuajak dia brainstorming respon untuk si boss. Siapa tahu cocok.

Boss, saya minat apply, untuk:

1. Memahami apa & bagaimana posisi tersebut diperlakukan disana. Untuk memperkaya wawasan kerja.

2. Memeriksa apakah saya qualified untuk posisi itu. Untuk feedback pihak lain atas self development saya.

3. Memperluas kesempatan diskusi sama para petinggi2 jika lanjut terus proses seleksi. Untuk free life & career coaching dari sosok2 yang sudah terbukti. Jalur tol ketemu orang2 besar.

4. Berlatih terus skill menghadapi seleksi dan interview. Untuk menjaga kesiapan diri. Comfort zone acap melenakan.

Itu semua peluang baru: wawasan tentang karir dan kerja, feedback self development, free career & life coach, berlatih menghadapi seleksi.

5. Jika sampai offering, saya berlatih mengambil keputusan dilematik.

Ini semua tahap eksplorasi. Terlalu dini untuk memutuskan akan pergi. Mungkin pengalaman batinnya malah akan memperkuat aku tinggal disini. Mensyukuri. Jadi, apa yang masih kurang dari kantor ini?

#insanikhtiar
#provokata
BOS NANYA: KAMU APPLY TEMPAT LAIN YA?

Pas ditanya dadakan, apa responmu? Aha, sebagian besar terkejut dan terdiam. Dalam jeda berfikir keras respon politically correct nan elegan.

Yang gak apply, mungkin spontan menggeleng. Yang bernyali, balik nanya :“ Ada apa ya?“ Mungkin bos responnya datar juga:“ Gak ada apa2“. Lalu sepi.

Yang apply, mungkin dahi berkerut: Wah ketahuan kayaknya. Ngaku apa enggak ya? Lalu spekulasi sliweran dikepala, hingga ketemu respon yang netral dirasa:“ Ada apa ya bu, kok tiba2 ada topik ini?“

Kena bos straight:“Ditanya, kok balik nanya. Susah ya bilang iya atau enggak?“ Bilang iya, bakal diinterogasi. Bisa diperlakukan beda sekali. Bilang tidak, jangan2 dia tahu aku ngelamar kesana kemari.

Berani cek ombak? “ Bos mau tahu aja, apa tahu banget?“ Narasi lanjutannya : “Bos tertarik kenapa saya apply selagi saya aktif kerja? I will meet you to share my interesting concept“

Sebagai atasan, saya rutin cek ombak ke talenta2 yang pegang critical-roles. Ngajak terbuka bicara aspirasi. Ngapain keluar sana, kalo bisa diupayakan disini.

Gak takut ngelunjak? Ah, mereka kontribusi gak main2, gak itung2an. No worry!

Ada yang gak percaya bos bakal nanya itu. Argumen gahar: That's privacy. I will use my right to not respond. Kalo kamu?

#insanikhtiar
#provokata
BARU KERJA SEMINGGU DAPAT OFFERING BARU, AMBIL GAK YA?

“Jangan gitu, kan sudah tanda tangan. Offering baru itu, walau lebih sexy, sebenarnya ujian harga diri!” nasehat ala senior baby boomers, jaga konsep diri.

“Timbang2 betul offering baru. Gak cuma kompensasi. Bisa long term job secure gak? Potensi di black list lho. Kalaupun diambil risiko terbayar!” advis ala senior GenX, berhati2.

“Bisa dapet yang gue- banget utk ekspresi? Ambil!Dua tahun intensif ekspresi, cabut. Yang penting argument kuat, diomongin baik2. Kerja baru seminggu belum significant kontribusi kok” chat GenY, ringan jujur enjoy.

Kusering dicurhati, waktu status jobseekers offering begitu sepi. Pas baru mulai kerja, offering baru datang bertubi. Dilema datang mengusik hati.

Faktanya, sedang dalam masa percobaan 3 bulan. Klausul tersuratnya: perusahaan berhak memutuskan hubungan kerja dalam masa itu. Bukankah juga berlaku klausul tersirat : atas nama kesetaraan, pekerja juga berhak bertindak serupa? Tindakan resiprokal. Berarti tak ada halangan secara transaksional.

Bayangin offeringnya sexy, ciamik, pokoknya timbangan segala sudut lebih yahud. Kalau datang offering itu ketika baru mulai kerja beberapa minggu, ambil gak ya? Yang lebih penting, argumen yang mendasarinya apa ?

#insanikhtiar
#provokata
BERANINYA NEGO NAIK GAJI DILUAR

“ Om, aku lagi nunggu beberapa offering. Sudah agreed dalam bulan ini. Semuanya company keren. Aku akan pergi ke penawar tertinggi!“ Update infonya penuh optimis. Dia kasih kisi2 gajinya tipis2. Gak heran, kualifikasinya keren abis. Berarti, bersiap kirim surat resign yang kemarin sudah ditulis.

Kutanya, kenapa kok nego gaji segitu tinggi terjadinya diluaran? Maksudnya, kok gak dilakukan selagi di dalam perusahaan. Sudahkah mentok usahanya di dalam, mulai dari ketemu atasan? Minta difasilitasi bagian kepegawaian? Bahunya diangkat, bikin aku penasaran.

Om, sudah ngomong atasan. Dia bilang punya keterbatasan. Berlindung dibalik skema aturan naik gaji tahunan. Naik gaji ad-hoc atau off-cycle adalah pengecualian. Atasan beraninya main aman. Nyali dan argumen proposalnya kudu super-strong. Kalo enggak, reputasi amsyong. Didn't work.

Om, gak ada SOP HR yang membuka proses dialog aspirasi naik gaji, promosi, mutasi bottom up dari pegawai. Adanya pasal keluh kesah di PP/PKB. Adanya SOP administrasi resign. Ya udah resign aja.

Om, paling males sudah ngajuin resign tetiba boss2 dan HR kebakaran jenggot. Ngajakin miting super intensif bikin angot. Jadi repot. Nanya2 diluaran dapet berapa. Mau counter-offer senada. Tambahin tipis2 agar gak pergi kemana2. Merajuk, please mau ya.

Ada yang pernah menerapkan SOP HR tentang pencegahan resign? Khususnya dari talenta2 most wanted itu. Yang harus mencegah ya para boss. Sekalian agreed KPI Regret Loss untuk mereka. Di-endorse Bigboss langsung. Awalnya karyawan skeptis. Biasa, ide baru dan dianggap gila dan mengada2. Setelah setahun, hasilnya nyata.

Talenta2 itu berani nego naik gaji di dalam organisasi. Tak semua berhasil. Tapi regret loss-nya sangat terkendali. More people happy.

Kamu, pernah nego tekun naik gaji atau promosi di dalam organisasi?

#insanikhtiar
#provokata

Related Influencers